Ilmu Alamiyah Dasar

KATA PENGANTAR

Segala puji kepunyaan Allah Rabb semesta alam, semoga salawat dan salam-Nya terlimpahkan kepada Nabi Muhammad saw dan seluruh kerabat, para sahabat dan para pengikut-pengikutnya. Sehingga mendapatkan kemudahan dalam mengerjakan makalah “Ilmu Alamiyah Dasar ” yang harus diselesaikan.
Penulis juga mengucapakan terimakasih kepada semua pihak yang ikut serta dalam mendukung makalah ini, sehingga diharapkan bisa menghasilkan dan memaparkan penjelasan yang lebih jelas.
Dalam penulisan ini, pasti tidak akan luput dari kesalahan. Sehingga diharapkan bagi pembaca agar memberikan kritik dan saran supaya penulis mengetahui dan memperbaiki kesalahan yang terdapat dalam penulisan ini.
Akhirnya dengan ini, penulis mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat baik dari pembaca maupun penulis.

Malang, 11 Juni 2011

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Dalam Al-Quran, telah banyak mengupas dan menjelaskan secara rinci dan jelas bahwa apa yang ada di dalam bumi dan jagat raya ini adalah penguasaan Allah SWT. Dalam hal ini akan di paparkan tentang Fii sittati ayyam, Sab’ah Samawat, dan Rowasiyah, yang di jelaskan dalam berbagai tafsir. Di antaranya dari tafsir klsik dan kontemporer, yang bertujuan untuk bisa mengetahui apa maksud dari kalimat-kalimat tersebut.

2. 2 Rumusan Masalah

 Bagaimana Fii Sittati Ayyam dalam Tafsir Klasik/ jalain?
 Bagaimana Fii Sittati Ayyam dalam Tafsir Bir Ra’yi?
 Bagaimana Fii Sittati Ayyam dalam Tafsir Kontrmporer ?
 Bagaimana Sab’ah Samawaat dalam Tafsir Klasik?
 Bagaimana Sab’ah Samawaat dalam Tafsir Bir Ra’yi?
 Bagaimana Sab’ah Samawaat dalam Tafsir Kontemporer?
 Bagaimana Rowasiyah dalam Tafsir Klasik?
 Bagaimana Rowasiyah dalam Tafsir Bir Ra’yi?
 Bagaimana Rowasiyah dalam Tafsir Kontemporer?
 Bagaimana Perbandingan dari Ketiga Kalimat-Kalimat itu?

3. 3 Tujuan
Dengan ditulisnya makalah ini, bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan kalimat-kalimat itu. Sehingga bisa mengamalkan apa yang ada di dalam memperjuangkan Agama yang paling mulia disisi Allah SWT.
BAB II
PEMBAHASAN
2. 1 Fii Sittati Ayyam dalam Tafsir Klasik
Dalam Al-Qur’an, telah memaparkan tentang mana dari Fii Sittati Ayyam yang ada pada surat Ke-7 Al-A’raf (Tempat Yang Tinggi) ayat 54 yang berbunyi:

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa”.

Menurut ukuran hari dunia atau yang sepadan dengannya, sebab pada zaman itu masih belum ada matahari. Akan tetapi ji9ka Allah menghendakinya niscaya Ia dapat menciptakannya dalam sekejab mata, adapun penyebutan hal ini, di maksud guna mengajari makhluk-Nya agar tekun dan sabar dalam mengerjakan sesuatu (lalu Dia bersemayam di atas Arasy) Arasy menurut istilah bahasa artinya singgasana raja, yang dimaksud dengan bersemayam ialah yang sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya (Dia menutupkan malam kepada siang) bisa dibaca Takhfif yakni Yughsyii dan dibaca Tasydid, yakni Yughasysyii, artinya: keduanya itu saling menutupi yang lain secara silih berganti (yang mengikutinya) masing-masing di antara keduanya itu mengikuti yang lainnya (dengan cepat) secara cepat (dan di ciptakan-Nya pula matahari dan bitang-bintang) dengan dibaca Nashab diathafkan kepada As Samaawaat, dan dibaca Rafa’ sebagai Mubtada sedangkan khabarnya ialah (masing-masing tunduk) patuh (kepada perintah-Nya) kepada kekuasaan-Nya (ingalah, menciptakan itu hanya hak Allah ) semuanya (dan memerintah) kesemuanya adalah hak-Nya pula (maha suci) Maha Besar (Allah, Tuhan) pemelihara (semesta Alam).
Proses penciptaan alam semesta dalam Al-Qur’an sering menggunakan istilah sittati ayyam atau biasa di sebut ”enam hari”. Istilah ini antara lain terdapat pada surat [7]: 54, [10]: 3, [11]: 7, [25]: 59, [32]: 4, dan [50]: 38.
Selain ayat-ayat tersebut, ada juga beberapa ayat yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta seperti dalam surat [41]:9, 10, 12 dan [79]: 27-33.
Untuk memahami arti sittati ayyam dalam konteks penciptaan alam semesta, masing-masing ayat tersebut tidak bisa ditafsirkan secara terpisah. Para mufassir meyakini bahwa sebagian ayat Al-Qur’an menafsirkan sebagian yang lain (Al-Qur’anu yufassiru ba’dluhu ba’dlan). Sehingga istilah sittati ayyam harus ditafsirkan dengan melihat ayat-ayat lain yang terkait penciptaan alam semesta.
Akan tetapi, jika kita membandingkan ayat-ayat tersebut, akan terlihat sebuah permasalahan dalam Surat Fushshilat ayat 9, 10, dan 12. Dalam ayat 9 disebutkan: ”….yang menciptakan Bumi dalam dua masa……”, kemudian dalam ayat 10: ”…..menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa….”, dan ayat 12: ”maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa…….”.
Jika masa-masa dalam ketiga ayat tersebut dijumlahkan, maka jumlahnya menjadi 8 masa, bukan 6 masa (sittati ayyam) seperti yang telah disebutkan dalam ayat-ayat lainnya. Apakah hal ini berarti ada kontradiksi dalam Al-Qur’an? Tentu tidak akan ada mufassir yang beranggapan demikian.
Sebagian mufassir kemudian mencoba menafsirkan rangkaian ayat tersebut sebagai berikut. Mula-mula Bumi diciptakan selama dua masa (surat [41]:9). Setelah itu, diciptakan pula isinya selama dua masa. Jadi, istilah ”empat masa” dalam surat [41]:10 sebenarnya memasukkan dua masa penciptaan Bumi dalam ayat sebelumnya. Dilanjutkan dengan penciptaan langit selama dua masa (surat [41]:12), maka jumlah keseluruhannya ialah enam, bukan delapan masa.
Dalam ketiga ayat tersebut di atas, terdapat tiga istilah yang agak berbeda maknanya, namun diterjemahkan sama rata sebagai ”penciptaan”. Pertama, khalaqa pada surat [41]:9 yang bermakna ”menciptakan dari bahan yang belum ada sebelumnya”. Kedua, ja’ala dalam surat [41]:10, yang bermakna ”menyusun, mengolah bahan yang telah ada sebelumnya menjadi ciptaan baru”. Istilah ketiga ialah qadla dalam kata faqadlahunna (surat [41]:12). Istilah ini bermakna ”menetapkan”. Penggunaan istilah qadla (”menetapkan”) dalam ayat [41]:12 terkait dengan penciptaan langit: ”Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa…”
Selain Al-Qur’an, sejumlah hadits juga mengabarkan penciptaan alam semesta. Salah satunya adalah hadits At-Thabari nomor 17.971 yang terdapat dalam Shahih Muslim. Berbeda dengan Al-Qur’an, hadits ini menjelaskan bahwa alam semesta tercipta dalam 7 hari. Menurut hadits tersebut, Allah SWT menciptakan tanah pada hari Sabtu. Lalu, menciptakan gunung pada hari Ahad dan pepohonan di hari Senin. Kemudian menciptakan hal-hal negatif pada hari Selasa, cahaya di hari Rabu, dan mengembangbiakkan ciptaannya pada hari Kamis. Terakhir, Allah menciptakan Adam pada hari Jum’at ba’da Ashar.
Hadits lain juga menyebutkan bahwa Allah SWT memulai penciptaan Bumi pada hari Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan selesai hari Jum’at (6 hari). Asumsi yang digunakan ialah 1 hari dalam hadits ini sama dengan 1000 tahun. Jadi, mana yang benar? Enam, tujuh, atau berapa?
Kita harus ingat bahwa penyebutan angka tidak mesti bermakna eksak. Misalnya saja angka 7 dalam bahasa Arab menunjukkan jumlah yang banyak, kaki seribu yang berarti berkaki banyak, dan 1001 malam untuk menggambarkan banyaknya kisah di Negeri Persia. Jadi, apakah sittati ayyam memang menyebutkan tahapan penciptaan alam semesta, atau sekadar menunjukkan bahwa penciptaan alam itu sangat rumit sehingga perlu digambarkan dalam bilangan yang lebih dari tiga? Dalam tafsir lama maupun modern, belum ada penjelasan rinci tentang sittati ayyam.
Istilah ini diterima secara imani saja, bukan sebagai sebuah isyarat ilmiah. Meskipun demikian, bukan berarti penafsiran ilmiah tidak diperlukan. Tafsiran ilmiah apapun atas sittati ayyam dapat diterima asalkan tidak bertentangan dengan tafsiran ayat lain.
Dalam penafsiran dikenal teori munasabah, yaitu sebuah ayat yang selalu terkait dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Ayat-ayat itu berisi penjelasan mengenai karya Allah SWT seperti penciptaan alam, selalu mengawali ayat-ayat berisi penjelasan mengenai tauhid. Sehingga, setiap penafsiran mengenai penciptaan alam harus bermuara pada ketauhidan.
Al-Qur’an memang memiliki karakteristik yang mengagumkan, sebagaimana ungkapan Ibnu Abbas, ”Al-Qur’an itu bagaikan permata yang memancarkan cahaya dari sisi yang berbeda-beda.”

2. 3 Fii Sittati Ayyam dalam Tafsir Bir Ra’yi
Dalam tafsir ini, menjelaskan tentang fii sittati ayyam yang tertulis juga dalam Al-Qur’an surat al- A’raf ayat 54:
“Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada lagi kamu selain-Nya satu penolong pun dan tidak juga pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”.
Perbedaan pendapat ulama tentang makna sittati ayyam atau enam hari telah di jelaskan ketika menafsirkan Qs. Al-A’raf [7]: 54 dan Qs. Hud [11]: 7. Di sini telah mengemukakan bahwa ada ulama yang memahami kalimat tentang enam hari itu dalam enam kali 24 jam. Namun, menurut pendapat ulama yang lain bahwa manusia mengenal perhitungan. Perhitungan ini, berdasarkan kecepatan cahaya, suara, atau kecepatan detik-detik jam. Bahkan seperti yang ditulis ilmuan Mesir Zaghlul an Najjar, pada masa silam peredaran bumi lebih cepat dari masa-masa sesudahnya, dan ini juga berarti pertambahan jumlah hari-hari dalam sebuah tahun.
Pada periode Cambrian, sekitar 600 miliun tahunyang lalu setahun sama dengan 425 hari, lalu pada pertengan periode Ordovician sekitar 450 miliun tahun yang lalu jumlah hari dalam setahun sama dengan 385 hari. Dengan demikian bumi dari hari ke hari melambat peredarannya sehingga sekarang setahun sama dengan 365 hari atau 365 hari, lima jam , 49 menit dan 12 detik.

2. 3 Fii Sittati Ayyam dalam Tafsir Kontrmporer
Jika dilihat dari urutan pembahasan ketiga ayat tersebut, maka ”penetapan” tujuh langit berada pada bagian paling akhir rangkaian penciptaan. Namun, mengingat alam semesta senantiasa berproses, maka ”menetapkan” di sini tidak bisa disamakan dengan ”menyelesaikan”. Yang ”selesai” bukanlah fisik langit atau alam semesta, melainkan hukum-hukumnya. Dengan hukum-hukum itulah, alam semesta terus menerus berproses.
Hal lain yang menarik ditinjau adalah kata sittati ayyam dalam Al-Qur’an selalu diawali oleh kata fii yang menunjukkan suatu proses yang kontinyu, tanpa ada jeda. Berdasarkan ini dan uraian mengenai ketiga istilah sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa penciptaan alam semesta terjadi melalui sejumlah tahapan yang kontinyu: dimulai dengan penciptaan dari ketiadaan, penciptaan baru dari ciptaan-ciptaan sebelumnya, hingga penetapan hukum-hukum alam.

2. 4 Sab’ah Samawaat dalam Tafsir Klasik
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis” yakni sebagian di antaranya berada di atas sebagian yang lain tanpa bersentuhan.
Dalam pengertian ini, Allah telah menciptakan langit dengan berlapis-lapis yang mempunyai maksud-maksud tertentu. Karena dalam perkembangan dan pengetahuan yang telah terkumpulkan bahwa langit yang ketujuh itu terletak di super galaksi yang banyak sekali gumpalan-gumpalan meteor dan byak galaksi yang terkumpul didalamnya.
2. 4 Sab’ah Samawaat dalam Tafsir Bir Ra’yi
Dalam Al-qur’an juga telah dipaparkan dengan secara rinci, yaitu dalam Al-Qur’an surat Mulk ayat 3-4:
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak melihat pada ciptaan ar-Rahman sedikitpun ketidak seimbangan. Maka ulangilah pandangan itu adakah engkau melihat sedikitpun keretakan? Kemudian ulangilah pandangan itu dua kali niscaya akan kembali kepadamu pandangan itu kecewa, dan ia menjadi lelah.”
Ayat diatas menjelaskan bahwa: yang telah menciptakan tujuh langit berlapis lapis seresai dan sangat harmonis: Engkau siapa pun engkau kini dan masa datang tidak melihat pada ciptaan-Nya yang kecil maupun yang besar ketidaksinambungan.
Sab’a samawat/ tujuh langit di pahami oleh para ulama’ dalam arti planet-planet yang mengitari tata surya, selain bumi karena itulah karena dapat terjangkau oleh pandangan mata serta pengetahuan manusia, paling tidak saat turunnya al-Qur’an. Hemat penulis ayat dapat dipahami juga lebih umum dari pada itu, karena angka tujuh bisa merupakan angka yang menggantikan kata banyak.
Dalam Al-Qur’an, diungkapkan juga dalam surat Hud ayat 7:
“Sesungguhnya Allah telah menentukan keterangan-keterangan dari seluruh makhluk, seluruhnya Dia menciptakan semua langit dan bumi, 50.000 tahun lebih dahulu. Dan ‘ArsyNya adalah di atas air”.
Ayat ini telah memberikan isyarat, bahwasannya penentuan (takdir) yang akan ditempuh sekalian makhluk telah diaturkan terlebih dahulu sampai kepada hal yang berkecil-kecil, 50.000 tahun sebelum ketujuh langit dan bimi itu dijadikan. Maka bertambah dapat difahamkan bahwa menciptakan ketujuh langit diserambi bumi itu adalah dalam masa enam hari, yang berapa sebenarnya bilangan sehari itu, hanya Allah yang Maha mengetahuinya. Itu juga dijelaskanlah dalam ayat ini, bahwasannya dibawah naungan langit yang tinggi, di atas dihamparan bumi yang luas I I, manusia hidup ialah untuk di cobai, sanggupkah dia mengerjakan perbuatan yang baik atau tidak.
Manusia wajib selalu mengasuh budinya dan melatih akalnya, supaya dia mendapat cetusan dari ilmu Tuhan. Tidak ada barang suatu pun ala mini, baik di langit ataupun di bumi yang dijadikan Tuhan dengan kacau-balau. Penambahan ilmu akan menambah kuatnya iman, dan iman yang kuat akan menambah baiknya dan tingginya mutu amalan.

2.5 Sab’ah Samawaat dalam Tafsir Kontemporer
Menarik menyimak argumentasi para peminat astronomi tentang makna sab’a samaawaat (tujuh langit). Namun ada kesan pemaksaan fenomena astronomis untuk dicocokkan dengan eksistensi lapisan-lapisan langit.
Di kalangan mufasirin lama pernah juga berkembang penafsiran lapisan-lapisan langit itu berdasarkan konsep geosentris. Bulan pada langit pertama, kemudian disusul Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus pada langit ke dua sampai ke tujuh. Konsep geosentris tersebut yang dipadukan dengan astrologi (suatu hal yang tidak terpisahkan dengan astronomi pada masa itu) sejak sebelum zaman Islam telah dikenal dan melahirkan konsep tujuh hari dalam sepekan. Benda-benda langit itu dianggap mempengaruhi kehidupan manusia dari jam ke jam secara bergantian dari yang terjauh ke yang terdekat. Bukanlah suatu kebetulan 1 Januari tahun 1 ditetapkan sebagai hari Sabtu (Saturday — hari Saturnus — atau Doyobi dalam bahasa Jepang yang secara jelas menyebut nama hari dengan nama benda langitnya). Pada jam 00.00 itu Saturnus yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Bila diurut selama 24 jam, pada jam 00.00 berikutnya jatuh pada matahari. Jadilah hari berikutnya sebagai hari matahari (Sunday, Nichyobi). Dan seterusnya. Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi hari Bulan (Monday, getsuyobi, Senin), hari Mars (Kayobi, Selasa), hari Merkurius (Suiyobi, Rabu), hari Jupiter (Mokuyobi, Kamis), dan hari Venus (Kinyobi, Jum’at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari. Pemahaman tentang tujuh langit sebagai tujuh lapis langit dalam konsep keislaman mungkin bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga diambil dari kisah mi’raj Rasulullah SAW. Mi’raj adalah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha yang secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha Secara sekilas kisah mi’raj di dalam hadits shahih sebagai berikut: Mula-mula Rasulullah SAW memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir. Jibril juga mengajak Rasulullah SAW melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib.
Langit (samaa’ atau samawat) di dalam Al-Qur’an berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak dikenal dalam astronomi. Ada yang berpendapat lapisan itu ada dengan berdalil pada QS 67:3 dan 71:15 sab’a samaawaatin thibaqaa. Tafsir Depag menyebutkan “tujuh langit berlapis-lapis” atau “tujuh langit bertingkat-tingkat”. Walaupun demikian, itu tidak bermakna tujuh lapis langit. Makna thibaqaa, bukan berarti berlapis-lapis seperti kulit bawang, tetapi (berdasarkan tafsir/terjemah Yusuf Ali, A. Hassan, Hasbi Ash-Shidiq, dan lain-lain) bermakna bertingkat-tingkat, bertumpuk, satu di atas yang lain.
“Bertingkat-tingkat” berarti jaraknya berbeda-beda. Walaupun kita melihat benda-benda langit seperti menempel pada bola langit, sesungguhnya jaraknya tidak sama. Rasi-rasi bintang yang dilukiskan mirip kalajengking, mirip layang-layang, dan sebagainya sebenarnya jaraknya berjauhan, tidak sebidang seperti titik-titik pada gambar di kertas.
Lalu apa makna tujuh langit bila bukan berarti tujuh lapis langit? Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika kita mengenal istilah “tak berhingga” dalam suatu pendekatan limit, yang berarti bilangan yang sedemikian besarnya yang lebih besar dari yang kita bayangkan. Kira-kira seperti itu pula, makna ungkapan “tujuh” dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

Misalnya, di dalam Q.S. Luqman:27 diungkapkan, “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah.” Tujuh lautan bukan berarti jumlah eksak, karena dengan delapan lautan lagi atau lebih kalimat Allah tak akan ada habisnya. Sama halnya dalam Q. S. 9:80: “…Walaupun kamu mohonkan ampun bagi mereka (kaum munafik) tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampun….” Jelas, ungkapan “tujuh puluh” bukan berarti bilangan eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka bila kita mohonkan ampunan lebih dari tujuh puluh kali.
Jadi, ‘tujuh langit’ semestinya difahami pula sebagai benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.

Lalu apa makna langit pertama, ke dua, sampai ke tujuh dalam kisah mi’raj Rasulullah SAW? Muhammad Al Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi’ra, yang berarti menafsirkan tujuh langit dalam makna fisik. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha juga dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah isra’ mi’raj adalah langit ghaib. Dalam kisah mi’raj itu peristiwa fisik bercampur dengan peristiwa ghaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitur Makmur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, saya sependapat dengan Muhammad Rasyid Ridha dan lainnya bahwa pengertian langit dalam kisah mi’raj itu memang bukan langit fisik yang berisi bintang- bintang, tetapi langit ghaib.
Rowasiyah dalam Tafsir Klasik
Pada Al- Qur’an Surat Fusshilat ayat 10. Kata fiiha Rawasiyah yang berarti di Bumi itu gunung- gunung yang kokoh dan kuat.
Rawasiyah yang berarti pengokoh dan peneguh, gunung- gungn adalah penghambat angin, laksana katalisator pembagi strom listrik jangan langsung saja, dan penampung hujan dan mengalir dengan teratur dari puncak-puncak.

Rawasi terambil dari kata arr-rasw yakni kemantapan pada satu tempat. Dari sini gunung- gunung, karena ia kekar tidak bergerak dari tempatnya, di tunjuk dari kata rawasi yang merupakan jama’ dari kata raasiin.
Rowasiyah dalam Tafsir Bir Ra’yi
Dalam Al-Qu’an juga di jelaskan dalam surat an-Nahl aayat 15:
“Dan dia mencampakkan di bumi gunung-gunung supaya ia tidak goncang bersama kamu: dan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk”.

Kata rawasi terambil dari kata ar-rasw atau ar-rusuwwu yakni kemantapan pada satu tempat. Dari sini, gunung-gunug, karena ia kekar tidak bergerak dari tempatnya, di tunjuk dengan kata rawasi yang merupakan bentuk dari kata rasin.
Rowasiyah dalam Tafsir Kontemporer
Dalam Al-Qur’an juga dijelaskan pada surat Al-Ambiya’ ayat 32:
Rawasiy, yang bermakna sangat kokoh karena akar-akarnya menancap jauh kedalam lapisan kulit. Akar-akar itu dapat di ibaratkan seperti pasak penyangga, selain itu kerapatan-kerapatan jarak gunung-gunung dan akar-akarnya itu tidak lebih dari kerapatan kulit bumi yang mengelilinginya. Itu semua di ciptakan demikian agar, tekanan dalam kulit bumi terbagi secara merata ke semua arah. Dengan demikian tidak terjadi pergeseran atau perenggangan dan menimbulkan pengaruh yang berarti.
Dan juga di sebutkan dalam surat an-Naml ayat 61 yang dijelaskan bahwa antara gunung-gunung yang tertancap di bumi itu sungai-sungai, dan yang menjadikan untuknya yakni untukm bumi itu gunung-gunung yang kokoh sehingga bumi tidak goncang dan menjadikan pula antara dua laut pemisah sehingga air laut dan sungai tidak tercampur.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Banyak yang sudah kita ketahui bahwa fii sittati ayyam artinya enam masa. yang berarti Allah telah menciptakan apa yang ada di bumi dengan sangat sempurna. Dalam penafsiran ini, menyebutkan bahwa pada awal bumi itu diciptakan selama dua masa, kemudian diciptakan beserta isinya selama dua masa. Jadi, makna dari ”empat masa” sebenarnya memasukkan dua masa penciptaan bumi. Di teruskan dengan penciptaan langit selama dua masa, sehingga jumlah keseluruhannya adalah enam, bukan delapan masa.
Sab’ah samawat, artinya sebagai tujuh langit, dalam penafsiran ini menjelaskan tentang planet-planet yang mengitari tata surya, yaitu selain bumi. Di karenakan bisa terjangkau dengan pandangan mata dan pengetahuan manusia. Dan letaknya di super galaksi yang banyak terkumpul meteor-meteor dan galaksi-galaksi.
Rawasiyah, dalam tafsir ini banyak yang menjelaskan bahwa makna dari Rawasiyah itu adalah gunung. Karena didalam bumi, ada suatu gumpalan yang sangat kokoh dan kuat sehingga bisa menopang dan menyeimbangkan dataran atau apa yang ada di dalam bumi.

DAFTAR PUSTAKA

Hamka, Tafsir Al-Azhar,Singapura: Pustaka Nasional,1993.
Jalaluddin, Imam al-Mahali & Imam as-suyuthi, Tafsir Jalalain jilid 2, Bandung: Sinar Baru, 1990.
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al- Misbah, Jakarta: Lentera Hati, 2002
Internet.
Tujuh langit tidak berarti tujuh lapis, diakses pada tanggal 10 Juni 2011 dari http://artikelislami.com.

“enam hari” Penciptaan Alam Semesta, diakses pada tanggal 10 juni 2011 dari http://artikelislami.com.

Silakan Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s