Tafsir l

PENDIDIKAN MELALUI
PEMBENTUKAN KEBIASAAN
A. Q.S. An-Nahl ayat 67
وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالأعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Dan dari buah korma dan anggur, kamu membuat darinya minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang berakal.

1. Tafsir An-Nahl ayat 67
a. Menurut Tafsir Al-Azhar
Dari kurma dan anggur yang manis, yang demikian enaknya dimakan, apabila dicampur saja dengan ragi sedikit, buah itu jugalah yang menimbulkan mabuk, yang dibuat minuman keras. “ dan rezeki yang baik” ayat ini pun berupa peringatan yang halus sekali. Korma dan anggur bisa menimbulkan minuman keras yang membuat mabuk, merusak budi, tetapi bisa juga menjadi rizeki yang baik. Cuma bergantung kepada kepandaian manusia dan niatnya. Sebagai “tenaga atom” di zaman kita sekarang ini, bisa menjadi alat pemusnah dan bisa pula menjadi alat untuk menunjukkan kehidupan dan kemakmuran manusia. Alangkah luasnya yang dirangkum oleh ayat ini. Buah-buahan mentah yang ditimbulkan Allah, seumpama korma dan anggur dapat menghasilkan rezeki lipat berganda, asal mempergunakan akal. Jelas sekali ayat ini menyuruh memajukan pertanian dan memperlipat gandakan hasil bumi, malahan mengirimkan segala hasil bumi itu ke daerah-daerah yang lain. Meskipun di dalam ayat ini ada disinggung-singgung tentang minuman keras, bukan berarti bahwa ayat ini menghalalkan minuman keras, sebab larangan tentang itu sudah ada dalam islam dengan sangat kerasnya. Ayat ini diturukan Mekkah sebelum minuman itu dilarang, dan tidak juga menyuruh, hanya menceritakan saja. Sebab orang Arab sudah lama sekali dapat mengambil minuman keras dari kurma dan anggur.

b. Menurul Tafsir Al-Mishbah
Setelah menguraikan tentang susu, kini disebut lagi buah-buahan yang dapat dimakan, sekaligus dapat menghasilkan minuman. Hanya saja minuman tersebut dapat beralih menjadi sesuatu yang buruk, karena memabukkan. Dari sisi lain, karena untuk wujudnya minuman tersebut diperlukan upaya manusia maka ayat ini menegaskan upaya manusia membuatnya dengan menyatakan bahwa: Dan disamping susu yang merupaka minuman lezat, dari buah kurma dan anggur, kamu juga dapat membuat sesuatu yang darinya yakni dari hasil perasaannya, sejenis minuman yang memabukkan, seperti perasaan anggur atau kurma yang segar atau cuka dan selai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran dan kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.
Ayat ini menegaskan bahwa kurma dan anggur dapat menghasilkan dua hal yang berbeda, yaitu minuman memabukkan dan rizeki yang baik. Jika demikian, minuman keras (memabukkan), baik yang terbuat dari anggur maupun kurma, bukanlah rizeki yang baik.

B. Q.S. Al-Baqarah ayat 219
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
219. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.

1. Asbabun Nuzul Al- Baqarah ayat 219
Umar bin Khaththab berkata, “ saat turun larangan minuman khamar (minuman keras), aku berdoa, Ya Allah, Jelaskanlah kepada kami, tentang khamar yang dapat menjadi obat. Terhadap do’aku itu, turunlah permulaan ayat ini.” (HR.Ahmad)
Ibnu Abbas berkata, “saat turun perintah untuk sahabat mendatangi Rasulullah dan bertanya, sesungguhnya kami tidak mengetahui maksud sedekah yang telah engkau perintahkan kepada kami dan apa yang harus kami keluarkan ? atas pertanyaan mereka, turunlah lanjutan ayat ini yang artinya, Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan.” (HR. Ibnu Abi Hatim)
2. Tafsir Q.S Al-Baqarah ayat 219
a) Menurut Tafsir Ibnu Katsir
Firman Allah, “ Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi.” Khamr ialah seperti yang dikatakan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a., yaitu segala perkara yang dapat menutupi (mengacaukan) akal.
Firman Allah, “ Katakanlah,pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia,” dosanya menyangkut agama dan manfaatnya menyangkut keduniaan, seperti memperjualbelikannya. Keuntungan yang di peroleh dari judi oleh sebagian orang digunakan untuk membiayai kehidupan diri dan keluarganya, namun keuntungan ini tidak sebanding dengan kemudaratan dan kerusakannya yang nyata karena keuntungan itu berkaitan dengan akal dan agama. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantara (minuman) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingati Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari menerjakan perbuatan itu).

b) Menurut Tafsir Al-Mishbah
Ayat ini merupakan ayat kedua yang berbicara tentang minuman keras. Ayat yang pertama ada dalam firman Allah dalam Q.S. an-Nahl ayat 67. Ayat ini menegaskan bahwa korma dan anggur dapat menghasilkan dua hal yang berbeda, yaitu minuman keras (memabukkan), baik yang terbuat dari anggur maupun korma, bukanlah rizeki yang baik. Isyarat pertama ini telah mengundang sebagian umat Islam ketika itu untuk menjauhi minuman keras, walaupun belum secara tegas diharamkan. Adapun dalam ayat yang dibahas sekarang ini, isyarat yang kuat tentang keharamannya sudah lebih jelas, walau belum juga tegas. Jawaban yang menyatakan dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya menunjukkan bahwa ia seharusnya dihindari, karena sesuatu yang keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya adalah sesuatu yang tercela, bahkan haram.
Salah satu penyebab banyaknya minuman keras, adalah karena mereka enggan menafkahkan kurma dan anggur yang mereka miliki. Dari keengganan itu mereka memiliki kelebihan kurma dan anggur, dan ini pada gilirannya mendorongmereka untuk membuatnya menjadi minuman keras. Seandainya mereka menafkahkan apa yang berlebih dari kebutuhan mereka, niscaya anggar dan kurma itu tidak perlu dibuat minuman keras. Diriwayatkan oleh Abu Daud melalui sahabat Nabi saw. Sa’id Ibn Abi Waqqash, bahawa seorang wanita datang kepada Nabi saw. Tentang apa yang boleh ia nafkahkan dari harta suaminya (tanpa pengetahuannya). Nabi saw menjawab (الرطب) ar-rutub / kurma yang telah matang, “ Silahkan Anda makan dan silahkan menghadiahkannya.” Ini karena kelebihan kurma yang demikian akan rusak bila tidak dimakan atau tidak dihadiahkan, seperti juga anggur atau buah-buahan yang lain, bahkan demeikian juga masakan-masakan.
Demikian Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat yakni hukum-hukumdan keterangan-keterangan yang lebih jelas agar kamu berfikir.

C. Q.S. An-Nisa’ ayat 43
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
1. Asbabun Nuzul Surat An-Nisa’ 43
Ali bin Abu Thalib berkata, “ Saat itu, ayat yang mengharamkan khamar belum turun. Suatu ketika, Abdurrahman bin Auf mengadakan pesta. Ia mengundangku dan para sahabat lain. Dalam pesta itu, kami meminum khamar hingga mabuk. Waktu salat pun tiba. Aku ditunjuk sebagai imam salat jamaah. Saat aku melakukan kesalahan ucapan ketika membaca QS.109, Allah menurunkan ayat ini.”(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I dan Hakim)

2. Tafsir Q.S. An-Nisa’ ayat 43
a) Menurut Tafsir Ibnu Katsir
Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi melarang hamba-hamba-Nya yang beriman melakukan shalat pada saat mabuk, yaitu ketika seseorang yang shalat tidak mengetahui apa yang dia katakana. Allah juga melarang orang yang sedang junub mendekati tempat shalat, yaitu masjid, kecuali sekedar lewat dari pintu yang satu ke pintu yang lainnya tanpa sengaja.
Dalam cerita Israil, dari Umar bin Khaththab berkaitan dengan kisah pengharaman khamar. Umar menceritakan hadits itu dan kareana itulah maka diturunkan ayat yang terdapat dalam surat an-Nisa’, yaitu, “ Hai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengetahui
b) Menurut Tafsir Al-Mishbah
Ayat diatas mengandung dua macam hukum. Pertama, larangan melaksanakan shalat dalam keadaan mabuk, dan kedua larangan mendekati masjid pada saat junub. Ada juga yang memahami dalam arti larangan mendekati tempat shalat yakni masjid dalam keadaan mabuk dan junub dan demikian ini hanya mengandung satu hukum saja.
D. QS.An-Ma’idah ayat 90
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
1. Asbanun Nuzul Al-Ma’idah ayat 90
Ibnu Abbas nengatakan bahwa kedua ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa yang menimpa dua suku (kabilah) kaum Anshar yang hidup damai. Namun, jika mereka dalam keadaan mabuk karena minuman keras, maka mereka saling menggangu dan berkelahi. Perasaan inilah yang memunculkan dendam kesumat mereka terhadap golongan lain. (HR. Nasai dan Baihaqi)

2. Tafsir Surat Al- Maa’idah ayat 90
a) Menurut Tafsir Al-Azhar
Pertama: diharamkan khamar ialah sekalian minuman yang menimbulkan dan menyebabkan mabuk, dalam bahasa kita sebut arak atau tuak. Minuman itu menimbulkan mabuk oleh karena telah ada alkoholnya. Alkohol timbul dari ragi.
Kedua: diharamkan pula judi yaitu segala permainan yang menghilangkan tempoh dan melalaikan waktu dan membawa pertaruhan. Termasuklah di dalamnya segala permainan judi : Koa, Kim, Domino, Karti,Ceki, Dadu, atau segala macam permaianan yang bisa memakai pertaruhan, seumpama terka-terkaan isi manggis, atau berdiri di tepi jalan beramai-ramai bertaruh didalam menaksir nomor mobil yang lalu lintasatau mengadu ayam, jangkrik, mengadu kambing, sapid an lain sebagainya, yang kalah dan menang ditentukan dalam pertaruhan.
Ketiga: diharamkan pula penyembelihan untuk berhala. Sebab sembelihan untuk berhala adalah perbuatan musyrik.
Keempat: diharamkan pula melihat nasib dengan Azlam, yaitu cangkir atau potongan kayu berupa panah yang mereka gunakan dizaman jahiliyah untuk melihat nasib.
b) Menurut Tafsir Al- Mishbah
Imam bukhari menjelaskan minuman keras merupakan salah satu cara yang paling banyak menghilangkan harta, maka disusulnya larangan meminum khamr dengan perjudiaan. Dan karena perjudian merupakan salah satu cara yang membinasakan harta, maka pembinasaan harta disusul dengan larangan pengagunggan terhadap berhala yang merupakan pembinasaan agama. Begitu pula halnya dengan pengagungan berhala, karena ia merupakan syirik yang nyata (mempersekutukan Allah) jika berhala itu disembah, dan merupakan syirik tersembunyi bila dilakukan penyembelihan atas namanya, meskipun tidak disembah. Maka dirangkaikanlah larangan pengagungan berhala itu dengan salah satu bentuk syirik yaitu mengundi dengan anak panah. Dan setelah semua dikemukakan dihimpun beserta alasanya yaitu bahwa semua itu adalah rijs (perbuatan keji).
E. Penjelasan
Bahwasanya pendidikan melalui kebiasaan adalah suatu yang diberikan oleh kedua orang tua untuk melatih kepribadian anaknya agar anaknya tersebut bisa untuk bekal dia masa depan. Dalam hal ini juga terkait dalam Al-Qur’an
dalam surat An-Nisa’ ayat

Daftar Pustaka

Al-Azhar, (Hamka, Tafsir singapura: Pustaka Nasional, 1993)
Hamka, Tafsir Al-Azhar, (singapura: Pustaka Nasional, 1990)
Ar-Rifa’I, Muhammad Nasib, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (Jakarta: gema insane 1999).

Silakan Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s